Salah satu kesalahan pola pikir yang paling sering terjadi dalam urusan rezeki adalah menganggap bahwa rezeki itu akan “datang sendiri kalau sudah waktunya”.
Akibatnya, banyak orang tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang menyia-nyiakan potensi rezekinya sendiri.
Dalam tulisan ini saya tidak sedang membahas orang yang bermalas-malasan. Karena orang yang malas biasanya sudah tahu bahwa ia sedang menyia-nyiakan kesempatan. Masalahnya hanya satu: ia tidak cukup peduli untuk mengubahnya.
Yang ingin saya bahas adalah sesuatu yang jauh lebih halus, lebih sering terjadi, dan lebih jarang disadari.
Namanya opportunity cost.
Apa Itu Opportunity Cost?
Opportunity cost adalah nilai dari peluang yang hilang karena kita memilih satu pilihan dan meninggalkan pilihan lain.
Sederhananya begini.
Setiap kali kita memilih satu jalan, kita bukan hanya mendapatkan hasil dari jalan itu. Kita juga kehilangan hasil dari jalan lain yang sebenarnya bisa kita ambil.
Masalahnya, banyak orang hanya menghitung hasil yang terlihat di depan mata, tetapi tidak menghitung nilai peluang yang dikorbankan.
Contoh Sederhana
Seorang pebisnis memiliki dua pilihan.
Pilihan pertama, ia bisa mengambil order yang memberikan penghasilan konsisten selama 6 bulan ke depan sebesar Rp 5 juta per bulan. Kelihatannya bagus, karena penghasilannya jelas dan pasti.
Masalahnya, order ini akan menghabiskan separuh waktu kerjanya. Dengan sisa waktu yang ada, jika ia menjual layanan lain, ia hanya bisa menghasilkan tambahan sekitar Rp 3 juta per bulan.
Pilihan kedua, ia tidak mengambil order tersebut dan memilih fokus menjual layanan lainnya. Potensi penghasilan dari jalur ini adalah Rp 15 juta per bulan.
Secara insting, 99 persen orang akan mengambil pilihan pertama.
Kenapa?
Karena Rp 5 juta per bulan terlihat jelas dan pasti, sedangkan Rp 15 juta per bulan masih dianggap “baru potensi”.
Di sinilah banyak orang mulai menyia-nyiakan potensi rezekinya.
Potensi Bukan Berarti Untung-untungan
Banyak orang salah paham terhadap kata “potensi”.
Mereka mengira potensi itu sama dengan harapan kosong, angan-angan, atau untung-untungan.
Padahal tidak begitu.
Potensi adalah kemungkinan nyata yang memang bisa diwujudkan, setidaknya sebagian besarnya, dalam situasi yang wajar.
Tentu saja potensi tidak selalu menjadi hasil 100 persen. Tetapi bukan berarti potensi boleh diabaikan begitu saja.
Misalnya kita ambil angka konservatif. Katakanlah orang itu hanya mampu mewujudkan 80 persen dari potensi yang ada.
Jika ia mengambil pilihan pertama, maka batas rezekinya menjadi:
Rp 5 juta + 80 persen dari Rp 3 juta = Rp 7,4 juta per bulan
Sedangkan jika ia mengambil pilihan kedua, yaitu fokus penuh pada layanan dengan potensi Rp 15 juta per bulan, maka hasilnya:
80 persen dari Rp 15 juta = Rp 12 juta per bulan
Dengan kata lain, dengan memilih yang tampak lebih aman, ia sebenarnya membuang potensi rezeki sebesar:
Rp 12 juta - Rp 7,4 juta = Rp 4,6 juta per bulan
Dalam 6 bulan, berarti ia membuang potensi rezeki sebesar:
Rp 27,6 juta
Kenapa Banyak Orang Tidak Merasa Rugi?
Masalahnya, banyak orang tidak merasa sedang membuang uang, karena uang itu belum ada di tangan.
Inilah jebakannya.
Kalau seseorang sudah memegang uang Rp 27,6 juta lalu uang itu hilang, ia pasti merasa rugi. Ia mungkin panik, marah, atau menyesal.
Tetapi kalau ia kehilangan potensi Rp 27,6 juta karena memilih peluang yang lebih kecil, ia sering tidak merasa rugi sama sekali.
Padahal secara realitas rezeki, itu tetap kerugian.
Bedanya hanya satu: kerugian itu terjadi di wilayah potensi, bukan di wilayah saldo rekening.
Rezeki Bukan Hanya yang Sudah Masuk
Banyak orang gagal memahami hal ini karena mereka hanya menghitung rezeki yang sudah masuk, bukan rezeki yang sebenarnya bisa masuk.
Mereka merasa bijaksana karena memilih yang pasti.
Padahal sering kali yang mereka sebut “pasti” itu hanyalah angka kecil yang membuat mereka merasa aman, sementara peluang yang lebih besar dibiarkan lewat begitu saja.
Tentu saja ini bukan berarti kita harus selalu mengambil risiko besar.
Bukan begitu.
Yang keliru adalah ketika seseorang menyamakan semua potensi dengan khayalan, lalu memilih peluang kecil hanya karena terlihat lebih aman.
Potensi Tetap Harus Dihitung Secara Realistis
Potensi yang benar harus tetap dihitung secara realistis.
Pertanyaannya:
Apakah peluangnya memang ada?
Apakah kapasitas kita cukup?
Apakah pasarnya nyata?
Apakah waktunya cukup?
Apakah kalau tidak berhasil penuh, sebagian besarnya tetap bisa tercapai?
Kalau jawabannya ya, maka potensi itu harus dianggap sebagai bagian dari perhitungan rezeki.
Bukan diabaikan begitu saja.
Sibuk Bukan Berarti Tidak Menyia-nyiakan Rezeki
Salah satu bentuk menyia-nyiakan rezeki yang paling sering terjadi bukanlah tidak bekerja.
Melainkan bekerja terlalu sibuk pada peluang kecil, sampai tidak punya ruang untuk mengambil peluang yang lebih besar.
Orang seperti ini sering merasa dirinya rajin.
Ia bekerja setiap hari. Ia menerima order. Ia melayani klien. Ia sibuk dari pagi sampai malam.
Tetapi kesibukannya justru mengunci rezekinya pada tingkat yang rendah.
Ia bukan malas.
Ia hanya salah memilih medan rezeki.
Dan ini jauh lebih berbahaya daripada kemalasan biasa, karena orang malas masih mudah dikritik. Tapi orang yang sibuk pada peluang kecil biasanya merasa dirinya sudah benar.
Padahal belum tentu.
Jangan Terlalu Cepat Mengisi Waktu dengan Peluang Kecil
Kadang yang membuat rezeki seseorang tidak naik bukan karena ia kurang bekerja.
Melainkan karena ia terlalu cepat mengisi waktunya dengan pekerjaan yang nilainya terlalu kecil.
Lalu ketika peluang besar datang, ia sudah tidak punya waktu, tenaga, atau fokus untuk mengambilnya.
Setelah itu ia berkata:
“Belum rezeki.”
Padahal mungkin bukan belum rezeki.
Mungkin rezekinya sudah lewat di depan mata, tetapi ruang untuk menerimanya sudah dipenuhi oleh pilihan yang terlalu kecil.
Inilah yang saya maksud dengan menyia-nyiakan potensi rezeki.
